Mengenai Saya

Foto saya
menyesuaikan energi dengan alam

Kamis, 22 Desember 2011

komunikasi sosial dan fungsinya

Komunikasi sosial ialah suatu proses interaksi di mana seseorang atau lembaga menyampaikan amanat kepada pihak lain supaya pihak lain dapat menangkap maksud yang dikehendaki penyampai. 
Unsur-unsur dalam komunikasi sosial, yaitu komunikator (pihak yang memulai komunikasi), amanat (hal-hal yang disampaikan dapat berupa perintah, kabar, buah pikiran, dan sebagainya), media (daya upaya yang dipakai untuk menyampaikan amanat kepada penerima), komunikan (orang atau satuan orang-orang yang menjadi sasaran komunikasi), dan tanggapan (respons) adalah tujuan yang diharapkan oleh komunikator).
Jenis-jenis komunikasi sosial adalah komunikasi langsung, komunikasi tidak langsung, komunikasi satu arah, komunikasi timbal-balik, komunikasi bebas, komunikasi fungsional, komunikasi individual, komunikasi massal, sedangkan fungsi komunikasi sosial adalah memberi informasi, memberi bimbingan, dan memberi hiburan
Komunikasi organik dapat juga disebut sebagai komunikasi fungsional. Harap jangan dilupakan bahwa kata-kata fungsional itu sumbernya bahwa elemen-elemen dalam masyarakat itu saling memberi kontribusi secara fungsional. 
Efektivitas dan kesulitan komunikasi, antara lain mencakup masalah yang berhubungan dengan kriteria dan kesulitan komunikasi, sedangkan kesulitan komunikasi itu sendiri bisa karena kesulitan pada amanat, bahasa isyarat, bahasa lambang, dan dapat pula kesulitan itu terletak pada komunikan. Tentu saja bukan sekadar itu, kesulitan bisa juga terjadi pada media komunikasinya, kesulitan pada unsur sosial budayanya.

pengertian komunikasi

Terdapat banyak definisi komunikasi yang dikemukakan oleh para ahli komunikasi. Ada yang hampir mirip, namun ada juga yang berbeda! Perbedaan-perbedaan yang muncul itu lebih banyak karena fokus perhatian atau titik tolak pembahasannya. Misalnya, ada yang menekankan pada persoalan koordinasi makna, ada yang lebih menekankan information sharing-nya, ada yang menekankan pentingnya adaptasi pikiran antara komunikator dan komunikan, ada yang lebih menfokuskan pada prosesnya, ada yang menganggap lebih penting menunjukkan komponen-komponennya, dan tentu saja masih ada yang lainnya lagi.
Dalam perspektif sosiologi, komunikasi itu mengandung pengertian sebagai suatu proses men-transmit/memindahkan kenyataan-kenyataan, keyakinan-keyakinan, sikap-sikap, reaksi-reaksi emosional, misalnya marah, sedih, gembira atau mungkin kekaguman atau yang menyangkut kesadaran manusia. Pemindahan tersebut berlangsung antara manusia satu kepada yang lainnya. Jadi, jelas bagi sosiologi komunikasi itu tidak sekadar berisi informasi yang dipindah-pindahkan dari seseorang kepada yang lainnya, melainkan juga meliputi ungkapan-ungkapan perasaan yang pada umumnya dialami oleh umat manusia yang hidup di dalam masyarakat.
Lingkungan komunikasi, setidak-tidaknya mempunyai 3 dimensi, yaitu dimensi fisik, dimensi sosial psikologis, dan dimensi temporal. Ketiga dimensi tersebut sering kali bekerja bersama-sama dan saling berinteraksi, dan mempunyai pengaruh terhadap berlangsungnya komunikasi.
Proses adalah suatu rangkaian aktivitas secara terus-menerus dalam kurun waktu tertentu. Yang dimaksud dengan kurun waktu tertentu itu memang relatif. Dia bisa pendek, tetapi bisa juga panjang/lama, hal tersebut sangat tergantung dari konteksnya. Proses komunikasi secara primer adalah komunikasi yang dilakukan secara tatap muka, langsung antara seseorang kepada yang lain untuk menyampaikan pikiran maupun perasaannya dengan menggunakan simbol-simbol tertentu, misalnya bahasa, kial, isyarat, warna, bunyi, bahkan bisa juga bau.
Di antara simbol-simbol yang dipergunakan sebagai media dalam berkomunikasi dengan sesamanya, ternyata bahasa merupakan simbol yang paling memadai karena bahasa adalah simbol representatif dari pikiran maupun perasaan manusia. Bahasa juga merupakan simbol yang produktif, kreatif dan terbuka terhadap gagasan-gagasan baru, bahkan mampu mengungkapkan peristiwa-peristiwa masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang.
Proses komunikasi secara sekunder adalah komunikasi yang dilakukan dengan menggunakan alat/sarana sebagai media kedua setelah bahasa. Komunikasi jenis ini dimaksudkan untuk melipatgandakan jumlah penerima informasi sekaligus dapat mengatasi hambatan-hambatan geografis dan waktu. Namun, harap diketahui pula bahwa komunikasi jenis ini hanya efektif untuk menyebarluaskan pesan-pesan yang bersifat informatif, bukan yang persuasif. Pesan-pesan persuasif hanya efektif dilakukan oleh komunikasi primer/tatap muka.
Umpan balik komunikasi secara sekunder bersifat tertunda (delayed feedback), jadi komunikator tidak akan segera mengetahui bagaimana reaksi atau respons para komunikan. Oleh karena itu, apabila dibutuhkan pengubahan strategi dalam informasi berikutnya tidak akan secepat komunikasi primer atau tatap muka.

Kamis, 15 Desember 2011

Pandangan materialisme historis karl marx

  • Pengantar
  • Konsep filsafat yang ditawarkan oleh Karl Marx mempunyai dampak yang sangat besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan, sejarah pemikiran modern, kebudayaan, seni, bahkan filsafat. Begitu banyak hal yang ia tawarkan mulai dari pemikirannya tentang alienasi, filsafat pekerjaan, materialism historis, hingga komunisme. Seperti kita ketahui bersama, lewat tulisan tulisannya, Marx sebenarnya menolak usaha usaha yang bersifat moralis belaka. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini, saya akan mencoba menggali lebih dalam mengenai konsep materialism historis.
  • Pandangan materialism historis adalah pandangan tentang factor factor pokok yang menentukan perkembangan sejarah. Pandangan ini bersamaan dengan teorinya tentang revolusi merupakan bagian dari konsep Marx yang paling berpengaruh dan tetap merupakan inti dari segala macam Marxisme.
  • Pandangan materialism sejarah banyak dipahami salah, baik oleh kaum marxis sendiri maupun oleh lawan lawan mereka. Kata yang paling menyesatkan ialah kata materialis. Karena itu Marxisme sering disebut sebagai salah satu bentuk materialism. Padahal di seluruh karya Marx hamper tidak ditemukan uraian apapun tentang materialism, yaitu sebagai anggapan bahwa realita terakhir alam semesta ialah materi. Alam semseta tidak pernah dipersoalkan oleh Marx. Marx hanya bicara tentang perkembangan masyarakat, dan dalam hubungan ini materialis hanya berarti bahwa kegiatan atau pekerjaan jasmaniah atau produksi adalah kegiatan dasar manusia dan bukan pemikirannya.[1]
  • Pandangan Materialisme Sejarah
  • Materialisme” dalam Marx berarti bahwa kegiatan dasar manusia adalah kerja sosial. Di sini dia menerima pengandaian Feuerbach bahwa kenyataan akhir adalah obyek indrawi, dan dalam Marx objek indrawi itu harus dipahami sebagai kerja atau produksi. Istilah “sejarah” mengacu pada Hegel yang pengandaian-pengandaiannya tentang sejarah diterima oleh Marx. Tetapi, sejarah di sini bukan menyangkut perwujudan diri Roh, melainkan perjuangan kelas-kelas untuk mewujudkan dirinya mencapai kebebasan/emansipasi.
  • Sosialisme Marx berdasarkan pada penelitian syarat-syarat obyektif perkembangan masyarakat. Marx menolak pendasaran sosialisme pada pertimbangan-pertimbangan moral. Menurutnya sosialisme terwujud bila syarat-syarat obyektif penghapusan hak milik pribadi atas alat-alat produksi terpenuhi dan keadaan tersebut harus diciptakan.
  • Hukum dasar perkembangan masyarakat ialah bahwa produksi kebutuhan-kebutuhan material manusia menentukan bentuk masyarakat dan pengembangannya. Fakta sederhana itu ialah bahwa manusia pertama-tama harus makan, minum, bertempat tinggal, dan berpakaian. Setelah itu baru mereka melakukan kegiatan politik, ilmu pengetahuan, seni, agama, dan seterusnya. Jadi, produksi nafkah hidup material bersifat langsung. Dengan demikian tingkat perkembangan ekonomis sebuah masyarakat atau jaman menjadi dasar dari bentuk-bentuk kenegaraan, pandangan-pandangan hukum, seni, dan bahkan perkembangan pandangan-pandangan religius orang-orang yang bersangkutan.
  • “Bukan kesadaran manusia yang menentukan keadaan mereka, tetapi sebaliknya keadaan sosial merekalah yang menentukan kesadaran mereka”. Pemikiran ini tidak bertolak dari apa yang dikatakan orang, tidak dari bayangan dan cita-cita orang, juga tidak dari yang dipikirkan orang, melainkan dari manusia yang nyata dan aktif. Dari proses hidup nyata merekalah perkembangan refleks-refleks serta gema-gema ideologis tentang proses hidup itu dijelaskan.
  • Keadaan sosial menyangkut produksi masyarakat, pekerjaan masyarakat. Manusia ditentukan oleh produksi mereka: apa yang mereka produksi dan cara mereka berproduksi. Pandangan ini disebut materialis. Disebut materialis karena sejarah manusia dianggap ditentukan oleh syarat-syarat produksi material. Jadi Marx memakai kata materialisme bukan dalam arti filosofis, yakni sebagai pandangan/kepercayaan bahwa seluruh realitas adalah materi, melainkan ia ingin menunjuk pada faktor-faktor yang menentukan sejarah.  Faktor-faktor tersebut bukanlah pikiran melainkan keadaan material manusia dan keadaan material adalah produksi kebutuhan material manusia. Cara manusia menghasilkan apa yang dibutuhkan untuk hidup itulah yang disebut keadaan manusia dan cara itulah yang menentukan kesadaran manusia. Cara manusia berpikir ditentukan oleh cara ia bekerja. Jadi, untuk memahami sejarah dan arah perubahannya, manusia tidak perlu memperhatikan apa yang dipikirkan oleh manusia, melainkan bagaimana ia bekerja dan bagaimana ia berproduksi.
  • Kualitas hidup ditentukan oleh kedudukannya dalam masyarakat dan keanggotaan dalam kelas sosial tertentu sangat menentukan cara seseorang memandang dunia. Maka kesadaran dan cita-cita manusia ditentukan oleh kedudukannya dalam kelas sosial. Demikian juga cara berproduksi menentukan adanya kelas-kelas sosial; keanggotaan menentukan kepentingan orang, dan kepentingan menentukan apa yang dicita-citakan. Maka, hidup rohani masyarakat, kesadarannya, agamanya, moralitasnya, nilai-nilai budaya, dan seterusnya bersifat sekunder. Sekunder karena hanya mengungkapkan keadaan primer, struktur kelas masyarakat, dan pola produksi. Sejarah tidak ditentukan oleh pikiran manusia, melainkan oleh cara ia menjalankan produksinya. Maka, perubahan masyarakat tidak dapat dihasilkan oleh perubahan pikiran, melainkan oleh perubahan dalam cara produksi[2].
  • Basis dan Bangunan Atas
  • Cara produksi kehidupan material mengkondisikan proses kehidupan sosial, politik, dan spiritual pada umumnya. Bukan kesadaran manusia yang menentukan keadaan mereka, sebaliknya, keadaan sosial merekalah yang menentukan kesadaran mereka. Marx membagi lingkup kehidupan manusia dalam dua bagian besar, yang satu adalah “dasar nyata” atau “basis”, dan yang lain adalah “bangunan atas”. Dasar atau basis itu adalah bidang “produksi kehidupan material”, sedangkan bangunan atas adalah “proses kehidupan sosial, politik, dan spiritual”. Kehidupan bangunan atas ditentukan oleh kehidupan dalam basis.
  • Basis/Materi (Ekonomi) - Unterbau
  • Basis ditentukan 2 faktor: (1) tenaga-tenaga produktif, dan (2) hubungan-hubungan produksi. Tenaga2 produktif adalah kekuatan-kekuatan yang dipakai untuk mengerjalan dan mengubah alam. Unsur-unsur tenaga produktif adalah alat-alat kerja, manusia dengan kecakapannya, dan pengalaman-pengalaman dalam produksi.
  • Hubungan2 produksi adalah hubungan kerjasama atau pembagian kerja antara manusia yang terlibat dalam proses produksi. Hubungan ini adalah strukur pengorganisasian sosial produksi. Misalnya, pemilik modal dan pekerja. Dan karena struktur kelas pada hakekatnya ditentukan oleh sistem hak milik, maka hubungan2 produksi itu sama juga dengan hubungan hak milik.
  • Struktur kelas dalam masyarakat bukan sesuatu yang kebetulan, melainkan ditentukan oleh tuntutan efisiensi produksi, atau oleh tingkat perkembangan tenaga2 produksi. Maka yang pertama menentukan hubungan2 produksi atau struktur kelas suatu masyarakat adalah tenaga2 produktif. Hubungan2 itu tidak tergantung pada kemauan orang, melainkan pada tuntutan objektif produksi.
  • Bangunan Atas/Superstruktur (Kesadaran) - Überbau
  • Terdiri dari 2 unsur: (1) tatanan institusional dan (2) tatanan kesadaran kolektif (bangunan atas ideologis).
  • Tatanan institusional adalah semacam lembaga yang mengatur kehidupan bersama dalam masyarakat di luar bidang produksi, seperti organisasi sebuah pasar, sistem pendidikan, sistem kesehatan masyarakat, sistem lalu lintas, dan terutama sistem hukum dan negara
  • Tatanan kesadaran kolektif memuat segala sistem kepercayaan, norma-norma dan nilai yang memberikan kerangka pengertian, makna, dan orientasi spiritual kepada usaha manusia, termasuk mengenai pandangan dunia, agama, filsafat, moralitas masyarakat, nilai2 budaya, seni, dsb.
  • Marx bertolak dari pengandaian bahwa institusi-institusi, agama, moralitas, dan sebagainya ditentukan oleh struktur kelas dalam masyarakat. Menurutnya, negara selalu mendukung kelas-kelas atas, dan agama serta sistem nilai lainnya memberikan legitimasi kepada kekuasaan kelas2 atas itu. Hubungan2 produksi dalam basis selalu berupa struktur2 kekuasaan, tepatnya struktur kekuasaan ekonomis. Hal itu ditandai kenyataan bahwa bidang produksi dikuasai oleh para pemilik. Maka teori tentang basis/bangunan bawah dan bangunan atas berarti bahwa struktur2 kekuasaan politis dan ideologis ditentukan oleh struktur hubungan hak milik, atau oleh struktur kekuasaan di bidang ekonomi. Yang menguasai bidang ekonomi, pada mumnya para pemilik, juga menguasai Negara, sehingga kekuasaan Negara selalu mendukung kepentingan mereka. Begitu pula kepercayaan-kepercayaan dan sistem-sistem nilai berfungsi memberi legitimasi kepada kekuasaan kelas-kelas atas. Dalam arti ini struktur kekuasaan politis dan spiritual dalam masyarakat selalu mencerminkan struktur kekuasaan kelas-kelas atas terhadap kelas-kelas bawah dalam bidang ekonomi.
  • Teori Kelas - Perubahan sosial masyarakat
  • Marx tidak pernah menguraikan teori kelasnya. Mirip dengan filsafat pekerjaan, teori kelas bukanlah sebuah teori eksplisit, melainkan suatu pemikiran yang melatarbelakangi uraian Marx tentang hukum perkembangan sejarah, tentang kapitalisme, dan tentang sosialisme.
  • Marx tidak pernah mendefinisikan apa yang dimaksud dengan “kelas”. Mengikuti definisi termasyur Lenin,kelas sosial dianggap sebagai golongan sosial dalam sebuah tatanan masyarakat yang ditentukan oleh posisi tertentu dalam proses produksi. Bagi Marx, kelas sosial merupakan gejals khas pasca-feodal. Menurutnya sebuah kelas baru bisa dianggap kelas dalam arti sebenarnya apabila dia bukan hanya secara objektif merupakan golongan sosial dengan kepentingan tersendiri, melainkan juga menyadari diri sebagai kelas atau sebagai golongan khusus dalam masyarakat yang mempunyai kepentingan-kepentingan spesifik serta mau memperjuangkannya.
  • Kelas Atas dan Kelas Bawah
  • Menurut Karl Marx pelaku-pelaku utama perubahan sosial bukanlah individu-individu tertentu, melainkan kelas-kelas sosial. Menurutnya, akan terlihat bahwa dalam dalam setiap masyarakat terdapat kelas-kelas yang berkuasa dan kelas-kelas yang dikuasai. Sebenarnya bukan 2 kelas yang diajukan Marx, melainkan 3 kelas, yaitu kaum buruh (mereka yang hidup dari upah), kaum pemilik modal (hidup dari laba), dan para tuan tanah (hidup dari rente tanah). Tetapi dalam analisis keterasingan para tuan tanah tidak dibicarakan dan pada akhir kapitalisme para tuan tanah akan menjadi sama dengan para pemilik modal.
  • Berangkat dari analisis keterasingan. Keterasingan dalam pekerjaan terjadi karena orang-orang yang terlibat dalam pekerjaan jatuh dalam 2 kelas sosial yang berlawanan, yaitu kelas buruh dan kelas majikan. Kelas buruh melakukan pekerjaan dengan menjual tenaga kerja kepada kelas pemilik karena tidak memiliki tempat dan sarana kerja, sedang kelas majikan adalah para pemilik alat-alat kerja: pabrik, mesin, dst.
  • Jadi, dalam sistem produksi kapitalis 2 kelas tersebut saling berhadapan, meski keduanya juga saling membutuhkan. Buruh dapat bekerja bila pemilik membuka tempat kerja baginya dan majikan beruntung apabila ada buruh yang mengerjakan alat-alat kerjanya. Tetapi saling ketergantungan itu tidak seimbang. Buruh tidak dapat hidup kalau tidak bekerja, sebaliknya, meskipun si pemilik tidak menjalankan alat-alat kerjanya, mereka msih bisa bertahan lebih lama. Mereka dapat hidup dari modal yang dikumpulkannya. Dengan demikian kelas pemilik ialah kelas yang kuat dan para pekerja adalah kelas yang lemah. Dan hubungan antara kedua kelas tersebut pada hakikatnya merupakan hubungan penghisapan atau eksploitasi. Hubungan antara kelas atas dan kelas bawah juga merupakan hubungan kekuasaan: yang satu berkuasa atas yang lain - kelas atas berkuasa atas kelas bawah.
  • Pertentangan antara kedua kelas bukan karena buruh iri atau para majikan egois, melainkan karena kepentingan dua kelas itu secara objektif berlawanan satu sama lain. Bagi Marx, setiap kelas sosial bertindak sesuai dengan kepentingannya dan kepentingannya itu ditentukan oleh situasi yang objektif. Di sini majikan mengusahakan laba sebanyak mungkin, dan sebaliknya buruh ingin upah sebanyak-banyaknya. Ada beberapa unsur yang harus diperhatikan: (1) tampak betapa besar peran struktural dibandingkan segi kesadaran dan moralitas di mana pertentangan antara buruh dan majikan bersifat objektif, (2) karena kepentingan yang secara objektif bertentangan, maka keduanya mengambil sikap dasar yang berbeda: kelas pemilik/kelas atas bersikap konservatif dan kelas buruh/bawah bersikap progresif dan revolusioner, (3) bagi Marx, setiap kemajuan dalam susunan masyarakat hanya dapat tercapai melalui revolusi. Itulah sebabnya mengapa Marxisme menentang semua usaha untuk memperdamaikan kelas-kelas yang saling bertentangan karena hal itu sama sekali tidak mungkin.
  • Ajaran nilai-lebih dan Kehancuran Kapitalisme
  • Fetisime Komoditas
  • Di dalam sistem kapitalis terdapat sesuatu yang “gaib”. Kegaiban komoditas itu terletak pada kenyataan bahwa barang-barang yang berlainan dapat dinilai dengan harga yang sama. Misalnya, sebuah televisi sama harganya dengan seekor kambing, atau sama dengan lima puluh buku, dst. Sepertinya ada sesuatu yang tidak tampak yang “melampaui” perbedaan yang nampak secara inderawi, yaitu nilainya sebagai komoditas. Maka, nilai komoditas itu menjadi semacam kenyataan supra-empiris yang disebutnya “fetish“. Lalu darimana nilai lebih dari komoditas itu berasal? Jumlah kerja yang dilakukan pekerja berubah menjadi nilai tukar produknya. Harga komoditas itu adalah “endapan kerja”. Menurut Marx, hukum ekonomi kapitalis adalah ekuivalensi. Jadi, harga bahan baku + harga tenaga kerja = harga komoditas. Lalu, darimana pemilik modal mendapat keuntungan? Marx menunjukkan bahwa nilai lebih ini diperoleh karena pekerja bekerja melampaui waktu yang wajar. Kelebihan waktu itu adalah kerja tanpa upah. Jadi, keuntungan itu diperolah dari kerja tanpa upah itu. Di sini, Marx menemukan sifat eksploitatif dari kapitalisme, karena, menurutnya, proses akumulasi modal adalah proses perampasan tenaga lebih kaum buruh yang tidak dibayar dan menjadi keuntungan kaum kapitalis.
  • Ajaran kehancuran kapitalisme adalah ajaran yang sangat deterministis. Di kemudian hari ajaran itu disebut ekonomisme, yaitu ajaran bahwa perkembngan sejarah ditentukan hukum-hukum ekonomi yang bersifat niscaya. Menurut analisis Marx, proses eksploitasi kaum buruh melalui nilai lebih akan menghasilkan krisis-krisis yang niscaya. Krisis disebabkan oleh kenyataan bahwa perusahaan-perusahaan besar menelan perusahaan kecil, sampai akhirnya jumlah kaum kapitalis menjadi semakin mengecil dan pemiskinan massa semakin meningkat. Cepat atau lambat, namun niscaya, pertumbuhan kapitalisme itu secara otomatis akan menumbuhkan kesadaran revolusioner dari pihak massa yang dipermiskin dan dieksploitasi. Pengangguran bertambah, inflasi membumbung, produksi tak terjual, dst., dan sistem kapitalis akan menghancurkan dirinya sendiri. Itulah saat munculnya masyarakat sosialis, yaitu masyarakat tanpa kelas yang dalam bayangan Marx muncul bagaikan matahari, bersifat otomatis[3].
  • Evaluasi terhadap Materialisme Historis
  • Pandangan materialism historis merupakan dasar klaim Karl Marx bahwa sosialismenya adalah ilmiah. Marx merasa telah menghilangkan segala kesewenangan dan unsure kebetulan sebagai factor penentu sejarah, karena ia menghilangkan kebebasan kehendak manusia sebagai factor perubahan masyarakat yang relevan. Semuanya akhirnya ditentukan oleh suatu factor objektif, yaitu tenaga tenaga produktif. Diantara tenaga tenaga produktif, unsure alat kerja adalah yang paling pertama. Dan pemakaian alat kerja ditentukan oleh bentuknya yang objektif, bukan oleh kehendak orang lain. Begitu pula penyempurnaan dan pengembangan alat alat kerja baru bukan karena selera orang, melainkan karena tekanan objektif kebutuhan untuk mempermudah usaha untuk menjamin kebutuhan hidup. Tenaga tenaga produktif itu menentukan hubungan hubungan produksi dan hubungan hubungan itu menentukan pelembagaan politis masyarakat serta struktur legitimasi ideologis. Dengan demikian perkembangan sejarah sampai sekarang dapat dijelaskan secara ilmiah dan pasti, dan arah perkembangan masyarakat di masa depan dapat dikalkulasi berdasarkan analisis system ekonomi yang terdapat pada saat sekarang. Karena itu, tidak salahlah mereka yang menganggap teori inti Marx sebagai deterministic: kebebasan manusia tidak memainkan peranan, sejarah ditentukan oleh factor factor ekonomis objektif.[4]
  • Meskipun Marx adalah seorang pemikir yang penting, ia mendekati banyak soal secara berat sebelah, hanya dalam perspektif social ekonomis. Yang positif dalam pemikiran Marx ialah bahwa ia telah membuka kedok dari banyak system nilai yang disebut suci dan sopan, dan yang memang sama sekali tidak suci dan sopan. Marx membersihkan masyarakat dan gereja gereja dari banyak hal yang diberi cap “kehendak Tuhan”, tetapi yang sebetulnya hanya bersifat ketidakadilan yang sama sekali tidak dikehendaki Tuhan.
  • Marx member arah yang lebih praktis terhadap filsafat, dan banyak tuntutan dari “manifesto komunis” yang dalam abad yang lalu masih kelihatan mustahil, sekarang sudah diterima secara umum sebagai hak hak asasi manusia di banyak Negara.

Selasa, 13 Desember 2011

REVOLUSI SOSIALIS

Pemerataan semua bentuk pemilikan menjadi pemilikan modal di satu pihak, pemerataan segala bentuk pekerjaan menjadi pekerjaan upahan di lain pihak, akhirnya menghasilkan keadaan di mana hanya tinggal dua kelas saja yang saling berhadapan, yaitu kaum kapitalis dan proletariat. Tetapi dua kelas itu tidak seimbang: kelas kapitalis adalah amat kecil karena kebanyakan kapitalis yang lebih lemah sudah hancur dalam persaingan tajam di pasar bebas dan tersapu ke dalam proletariat. Padahal dalam tangan kelompok kecil orang itu berkumpulah seluruh modal raksasa yang telah tercipta dan terus bertambah. Sedangkan proletariat memuat hampir seluruh anggota masyarakat, tetapi mereka tidak memiliki apa-apa.
Tetapi, meskipun proletariat sudah terhisap habis, pemelaratan mereka berjalan terus di bawah tekanan pasar yang tanpa ampun menuntut peningkatan produktivitas dari perusahaan-perusahaan yang ingin bertahan. Dengan demikian, irasionalitas sistem produksi kapitalis mencapai puncaknya: gudang dan toko penuh dengan segala macam komoditi yang amat dfibutuhkan dan amat diminati masyarakat, tetapi masyarakat tidak kuat untuk membelinya. Sang kapitalis tidak dapat menjual barang yang diproduksikannya, dan sang proletar tidak dapat membeli barng yang ditawarkan. Di depan toko-toko yang penuh barang kebutuhan, rakyat yang terdiri atas proletariat tidak mempunyai apa-apa lagi. Dengan demikian akhirnya tercapai titik dimana proletariat tinggal memilih antara dua alternatif: mati atau memberontak.
Orang yang sudah lama terdindas sering tidak kuat untuk memberontak, maka akhirnya mati. Tetapi lain halnya proletariat. Seperti telah diuraikan, pada saat mereka semakin miskin, kesadaran berkelas mereka semakin kokoh dan tidak terpatahkan. Mereka tidak akan membiarkan diri mereka mati, mereka memberontak. Mereka akan menjalankan revolusi sosialis.
Revolusi itu pada permulaannya akan bersifat politis: proletariat merebut kekuasaan negara dan mendirikan "kediktatoran proletariat". Artinya, proletariat menggunakan kekuasaan negara untuk menindas kaum kapitais untuk mencegah mereka memakai kekayan dan fasilitas luas yang masih mereka kuasai untuk menggagalkan revolusi proletariat dan mengembalikan keadaan lama. Jadi kediktatoran proletariat perlu untuk mencegah segala kemungkinan sebuah revolusi balasan dari sisa-sisa kaum kapitalis. Setelah itu hak milik atas tanah dan atas pabrik-pabrik serta alat-alat produksi lain dicabut dan dialihkan ke negara.
Apabila sisa-sisa perbedaan kelas dalam masyarakat sudah hilang, dengan sendirinya kediktatoran proletariat juga hilang karena tidak ada kelas yang perlu diawasi dan ditindas lagi. Dengan demikian "produksi sudah terpusat dalam tangan individu-individu yang berasosiasi, maka kekuasaan umum kehilangan sifat politisnya". Negara lama-kelamaan menghilang. Dan dengan penghapusan hak milik pribadi, proletariat "menghapus syarat-syarat pertentangan kelas, syarat-syarat adanya kelas-kelas, dan dengan demikian kekuasaannya sendiri sebagai kelas.
Jadi dengan merebut kekuasaan dan menghapus hak milik pribadi, proletariat akhirnya menciptakan masyarakat tanpa kelas. Dalam masyarakat tanpa kelas, negara sebagai "panitia untuk mengurus kepentingan borjuasi",tidak mempunyai dasar lagi: "negara tidak 'dihapus', negara menjadi layu dan mati sendiri. Masyarakat borjuis diganti dengan "asosiasi di mana perkembangan bebas masing-masing anggota merupakan syarat perkembangan bebas semua". 

Senin, 05 Desember 2011

Teori marx

  Marx menawarkan teori masyarakat kapitalis yang didasarkan pada pandangannya tentang hakikat manusiaa. Marx percaya bahwa pada dasarya manusia itu produktif, artinya, untuk bertahan hidup perlu bekerja di dalam alam dengan cara mengolahnya. Produktivitas mereka adalah cara yang sangat alamiah yang mereka gunakan untuk mengekspresikan dorongan kreatif dasar mereka. Selain itu, dorongan-dorongan ini diekspresikan secara bersama-sama dengan manusia lain, dengan kata lain, secara tersirat manusia bersifat sosial. Mereka perlu bekerja bersama untuk menghasilkan yang mereka butuhkan agar bertahan hidup. Di sepanjang sejarah, proses alamiah ini terhapus, pertama oleh kejamnya kondisi masyarakat primitif dan kemudian oleh beragam penyesuaian struktural yang diadakan masyarakat dalam perjalanan sejarah. Dengan berbagai cara, struktur-struktur ini bercampur aduk dengan proses produktif alamiah. Namun, adalah masyarakat kapitalis yang menyebabkan kehancuran paling buruk, hancurnya proses produktif alamiah mencapai puncaknya dalam kapitalisme.
  Pada dasarnya kapitalisme dalah struktur yang membentuk penghalang antara individu dengan proses produksi, produk proses tersebut, dan orang lain, pada hakikatnya, sistem ini bahkan memisahkan individu dari dirinya sendiri. Inilah makna dasar konsep alienasi: yaitu putusnya hubungan alamiah antarorang dan orang dengan yang mereka produksi. Alienasi terjadi karena kapitalisme berubah menjadi sistem dua kelas dimana kaum kapitalis berjumlah sedikit menguasai proses produksi, produk, dan waktu kerja bagi orang yang bekerja untuknya. Alih-alih secara alamiah memproduksi untuk dirinya sendiri dalam masyarakat kapitalis, secara tidak alami orang orang memproduksi untuk kelompok kapitalis. Secara intelektual, Marx memberikan perhatian pada struktur kapitalisme dan dampak opresifnya terhadap aktor. Secara politis, ia terseret pada keinginan untuk membebaskan orang dari struktur kapitalisme yang menindas.
  Sebenarnya Marx tidak banyak menghabiskan waktu untuk memimpikan negara sosialis. Ia banyak membantu mewujudkan keruntuhan kapitalisme. Ia percaya bahwa kontradiksi dan konflik dalam kapitalisme secara dialektis akan mengarah pada kehancuran kapitalisme itu sendiri, namun ia tidak yakin proses ini berlangsung secara alamiah. Orang harus bertindak pada saat yang tepat dan dengan cara yang tepat untuk mewujudkan sosialisme. Kapitalis memiliki banyak sumber daya untuk menghalang-halangi lahirnya sosialisme, namun itu semua dapat diatasi dengan tindakan bersama kaum proletar yang memiliki kesadaran kelas. Pad hakikatnya, sosialisme adalah masyarakat di mana untuk pertama kalinya orang dapat mendekati gambaran ideal Marx tentang produktivitas. Dengan bantuan teknologi modern, orang dapat berinteraksi secara harmonis dengan alam dan dengan orang lain untuk menciptakan apa yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup. Dengan kata lain, masyarakat sosialis ialah orang tidak teralienasi.
 

makalah emile durkheim

MAKALAH TEORI SOSIOLOGI KLASIK
Fakta Sosial dan Analisis Sosiologis
Dosen Pengampu : Nur Hidayah, M. Si .
Disusun oleh :
Anggun Dwi Jayanti (10413244038)
Tri Kusnandari          (10413244034)
Krissanto Kurniawan (10413244036)
Ilyas Fahrudin          (10413244037)

Pendidikan Sosiologi

FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
Tahun ajaran 2010/2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadiran Allah SWT karena dengan limpahan rahmat, inayah serta nikmat-Nya yang tak terhingga kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah “kemiskinan” ini dengan lancar.
            Kami berharap dengan adanya makalah ini, para pembaca dapat memahami tentang kemiskinan.
            Kami sadar bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, maka kami mengharapkan masukan, saran, ataupun kritik dari para pembaca sekalian demi penyusunan kembali makalah ini sehingga menjadi lebih baik.




                                                                                               
Yogyakarta, 20 September 2011

                                                                                                            Penyusun





BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
            Ada dua tema penting dalam karya Emile Durkheim.Pertama, keutamaan sosial daripada individu.Kedua, ide bahwa masyarakat bisa dipelajari secara ilmiah.Kita hidup di tengah masyarakat yang cenderung melihat segala sesuatu diseabkan oleh individu, bahkan persoalan sosial sekalipun seperti rasisme, polusi, dan resesi ekonomi. Durkheim mendekati masalah ini dari perspektif yang berlawanan , ia lebih menekankan dimensi sosial dari seluruh fenomena manusia. Durkheim melihat bahwa kekuatan-kekuatan sosial dapat bekerja dan mempunyai pengaruh terhadap individu yang bersifat membebaskan, karena kekuatan-kekuatan ini lalu dapat diperhitungkan dan mungkin disesuaikan melalui tindakan manusia. Oleh karena itu, dalam makalah ini kami akan membahas mengenai fakta sosial dan analisis sosiologis yang merupakan pemikiran sosiologis Emile Durkheim.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana biografi singkat karir intelektual Emile Durkheim?
2. Apa yang dimaksud fakta sosial, tipe-tipedan karakteristiknya?
3.Bagaimana strategi untuk menjelaskan fakta sosial?
4. Bagaimana fakta sosial dan implikasinya dalam analisis sosiologis?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui biografi singkat karir intelektual Emile Durkheim.
2. Untuk mengetahui pengertian, tipe-tipe dan karakteristik fakta sosial.
3. Untuk mengetahui bagaimana strategi untuk menjelaskan fakta sosial.
4. Untuk mengetahui bagaimana fakta sosial dan implikasinya terhadap analisis sosiologis.
BAB 2
PEMBAHASAN

A. Biografi Singkat Karir Intelektual Emile Durkheim
            Emile Durkheim lahir tahun 1858 di Epinal, suatu perkampungan kecil orang Yahudi di Bagian timur Prancis yang agak terpencil dari masyarakat luas.Masalah-masalah dasar tentang moralitas dan usaha meningkatkan moralitas masyarakat merupakan perhatian pokok selama hidupnya. Pada usia 21 tahun, Durkheim diterima di Ecole Normale Superieure. Dua kali sebelumnya dia gagal dalam ujian masuk yang sangat kompetitif, walaupun sebelumnya dia sangat cemerlang dalam studinya.Di masa mudanya, Durkheim menginginkan satu dasar yang lebih teliti dalam ilmu yang dia rasa dapat membantu memberikan satu landasan bagi rekonstruksi moral masyarakat.Sesudah menamatkan pendidikannya, Durkheim mulai mengajar. Selama lima tahun ia mengajar dalam satu sekolah menengah atas (lycees) di daerah Paris.
            Sejak awal karir mengajarnya, Durkheim bertekad untuk menekankan pengajaran praktis ilmiah serta moral daripada pendekatan filsafat tradisional yang menurut dia tidak relevan dengan masalah sosial dan moral yang gawat yang sedang melanda Republik ketiga itu.
1. Melembagakan Sosiologi sebagai Satu Disiplin Akademis
            Pada tahun 1887, ketika Durkheim berusia 29 tahun, pemberian kuliahnya dan beberapa artikel yang ditulisnya membuat dia menjadi seorang ahli ilmu sosial muda yang terpandang.Untuk itu, dia dihargai dengan pengangkatannya di fakultas pendidikan dan fakultas ilmu sosial di Universitas Bordeaux.Tahun 1896 Durkheim diangkat menjadi professor penuh dalam ilmu sosial.Kemudian tahun 1899 Durkheim ditarik ke Sorbonne, dan dia dipromosikan sebagai professor penuh dalam ilmu pendidikan pada tahun 1906.Pada tahun 1913 kedudukan Durkheim diubah ke ilmu pendidikan dan sosiologi.Akhirnya, secara resmi didirikan dalam lembaga pendidikan yang sangat terhormat di Prancis. Tahun 1917, pada usia 59 tahun Durkheim meninggal, sesudah menerima penghormatan dari orang-orang semasanya untuk karirnya yang produktif dan bermakna, serta setelah ia mendirikan dasar sosiologi ilmiah.
2. Pengaruh Sosial dan Intelektual terhadap Durkheim
Perhatian Durkheim sepanjang hidupnya terhadap solidaritas dan integrasi sosial muncul antara lain karena keadaan keteraturan sosial yang goyah di masa Republik Ketiga selagi dia masih muda. Durkheim lebih tertarik untuk berusaha memahami dasar-dasar munculnya keteraturan sosial yang baru.Dia melihat kesulitan-kesulitan selama periode peralihan dimana dia hidup, tetapi dia juga optimistis bahwa pengetahuan ilmiah tentang hukum masyarakat dapat menyumbang terkonsolidasinya dasar moral keteraturan sosial yang sedang muncul itu.
Perhatian Durkheim terhadap moralitas umum terjadi bersamaan dengan masa peralihan dalam sistem pendidikan di Prancis.Durkheim memandang pengajaran moralitas umum bagi warga di masa mendatang dalam tahun-tahun pembentukannya merupakan hal yang sangat penting untuk memperkuat dasar-dasar masyarakat dan meningkatkan integrasi serta solidaritas sosialnya.

3. Pertentangan dengan Individualisme Spencer
Seperti Comte dan Durkheim, Spencer tertarik pada perkembangan evolusi jangka panjang dari masyarakat-masyarakat modern.Namun pandangan Spencer mengenai masyarakat yang bersifat organis berbeda dengan pandangan dari Comte dan Durkheim. Bagi Spencer, kunci untuk memahami gejala sosial atau gejala alamiah lainnya adalah hukum evolusi yang universal.
Perbedaan yang penting antara Spencer dengan Comte dan Durkheim adalah pandangan Spencer mengenai kenyataan sosial yang bersifat individualistis.Namun Spencer berusaha mendamaikan kedua pandangan ini dengan mengemukakan perbedaan-perbedaan pokok antara “organisme” biologis dan sosial.Tidak seperti satu organisme biologis, suatu masyarakat tidak mempunyai kulit penutup dan tidak mempunyai sumber inteligensi yang senttral atau sumber kontrol yang analogis dengan otak.Sebaliknya, pelbagai “bagian” dari masyarakat tersebar, dan masing-masing bagian itu memiliki inteligensi dan kontrol dirinya sendiri.Masyarakat tidak terlepas dari individu-individu yang merupakan “bagian-bagian”nya.Masyarakat ada sebagai hasil dari persetujuan kontraktual dimana individu saling berembuk untuk mengejar kepentingan pribadinya.
Gambaran Spencer mengenai masyarakat yang ideal atau yang paling maju adalah masyarakat dimana individu memiliki kebebasan sebesar-besarnya untuk mengejar kepentingannya dan meningkatkan kebahagiaan tanpa diarahkan atau dikontrol oleh otoritas pusat manapun.
Pandangan Spencer mengenai peranan yang tepat dari pemerintah berbeda dengan pandangan Comte dan Durkheim. Gagasan Comte mengenai masyarakat positivis yang ideal di masa depan adalah masyarakat dimana pemimpin-pemimpin yang senantiasa mendapat penerangan sosiologis akan memberikan kontrol yang kuat dalam mengatur pelbagai segi kehidupan sosial untuk memastikan bahwa hukum-hukum dasar yang mengendalikan keteraturan sosial dan kemajuan itu dipertahankan. Pandangan Durkheim kurang muluk, tetapi dia jugga melihat pemerintah sebagai pelindung dasar-dasar moral masyarakat.
Gambaran Spencer yang bersifat individualistik tentang kenyataan sosial sangat berbeda dengan tekanan Durkheim bahwa fakta sosial mengatasi individu.Spencer mengasumsikan bahwa masy
arakat merupakan hasil dari persetujuan kontraktual antara individu-individu yang bersepakat untuk mengejar kepentingan individunya.

B. Pengertian, Tipe, dan Karakteristik Fakta Sosial
a. Pengertian Fakta Sosial
Untuk memisahkan sosiologi dari filsafat dan memberinya kejelasan serta identitas tersediri, Durkheim (1895/1982/ menyatakan bahwa pokok bahasan sosiologi haruslah berupa studi atau fakta sosial. Secara singkat, fakta sosial terdiri dari struktur sosial, norma budaya, dan nilai yang berada di luar dan memaksa aktor.
Durkheim (1895/1982: 13), menyatakan bahwa “fakta sosial adalah seluruh cara bertindak, baku maupun tidak, yang dapat berlaku pada diri individu sebagai sebuah paksaan eksternal; atau bisa juga dikatakan bahwa fakta sosial adalah seluruh cara bertindak yang umum dipakai suatu masyarakat, dan pada saat yang sama keberadaannya terlepas dari manifestasi-manifestasi individual.”
Kutipan ini menjelaskan bahwa Durkheim memberikan dua definisi untuk fakta sosial agar sosiologi bisa dibedakan dari psikologi.Pertama, fakta sosial adalah pengalaman sebagai sebuah paksaan eksternal dan bukannya dorongan internal.Kedua, fakta sosial umum meliputi seluruh masyarakat dan tidak terikat pada individu partikular apapun.
Durkheim berpendapat bahwa fakta sosial tidak bisa direduksi kepada individu, namun
mesti dipelajari sebagai realitas mereka. Durkheim menyebut fakta sosial dengan istilah Latin sui generis, yang berarti “unik”
Durkheim sendiri memberikan beberapa contoh tentang fakta sosial, termasuk aturan legal, beban moral, dan kesepakatan sosial. Dia juga memasukkan bahasa sebagai fakta sosial dan menjadikannya sebagai contoh yang paling mudah dipahami, karena bahasa adalah sesuatu yang mesti dipelajari secara empiris, bahasa adalah sesuatu yang berada di luar individu, bahasa memaksa individu, dan perubahan dalam bahasa hanya bisa dipelajari melalui fakta sosial lain tidak bisa hanya dengan keinginan individu saja.

b. Tipe-tipe Fakta Sosial
Fakta Sosial Material dan Nonmaterial
Durkheim membedakan dua tipe ranah fakta sosial, yaitu material dan nonmaterial. Fakta sosial material, seperti gaya arsitektur, bentuk teknologi, dan hukum dan perundang-undangan, relatif mudah dipahami karena keduanya bisa diamati secara langsung. Fakta sosialmaterial seringkali mengekspresikan kekuatan moral yang lebih besar dan kuat yang sama-sama berada di luar individu dan memaksa mereka.Kekuatan moral inilah yang disebut dengan fakta sosial nonmaterial.
Studi Durkheim yang paling penting, dan inti dari sosiologinya, terletak dalam studi fakta sosial nonmaterial ini. Durkheim mengungkapkan: “Tidak semua kesadaran sosial mencapai .... eksternalisasi dan materialisasi” (1897/1951:315). Apa yang saat ini disebut norma dan nilai, atau budaya oleh sosiolog secara umum (Alexander,1988c) adalah contoh yang tepat untuk fakta sosial nonmaterial.
Jenis-jenis Fakta Sosial Nonmaterial

1. Moralitas
Perspektif Durkheim tentang moralitas terdiri dari dua aspek. Pertama, Durkheim yakin bahwa moralitas adalah fakta sosial, dengan kata lain, moralitas bisa dipelajari secara empiris, karena ia berada di luar individu, ia memaksa individu, dan bisa dijelaskan dengan fakta-fakta sosial lain. Artinya, moralitas bukanlah sesuatu yang bisa dipikirkan secara filosofis, namun sesuatu yang mesti dipelajari sebagai fenomena empiris.Kedua, Durkheim dianggap sebagai sosiolog moralitas karena studinya didorong oleh kepeduliannya kepada “kesehatan” moral masyarakat modern.

2. Kesadaran Kolektif
Durkheim mendefinisikan kesadaran kolektif sebagai berikut; “seluruh kepercayaan dan perasaan bersama orang kebanyakan dalam sebuah masyarakat akan membentuk suatu sistem yang tetap yang punya kehidupan sendiri, kita boleh menyebutnya dengan kesadaran kolektif atau kesadaran umum.Dengan demikian, dia tidak sama dengan kesadaran partikular, kendati hanya bisa disadari lewat kesadaran-kesadaran partikular”.
Ada beberapa hal yang patut dicatat dari definisi ini.Pertama, kesadaran kolektif terdapat dalam kehidupan sebuah masyarakat ketika dia menyebut “keseluruhan” kepercayaan dan sentimen bersama. Kedua, Durkheim memahami kesadaran kolektif sebagai sesuatu terlepas dari dan mampu menciptakan fakta sosial yang lain. Kesadaran kolektif bukan hanya sekedar cerminan dari basis material sebagaimana yang dikemukakan Marx.Ketiga, kesadaran kolektif baru bisa “terwujud” melalui kesadaran-kesadaran individual.
Kesadaran kolektif merujuk pada struktur umum pengertian, norma, dan kepercayaan bersama. Oleh karena itu dia adlah konsep yang sangat terbuka dan tidak tetap. Durkheim menggunakan konsep ini untuk menyatakan bahwa masyarakat “primitif” memiliki kesadaran kolektif yang kuat, yaitu pengertian, norma, dan kepercayaan bersama , lebih dari masyarakat modern.

3. Representasi Kolektif
Contoh representasi kolektif adalah simbol agama, mitos, dan legenda populer. Semuanya mempresentasikan kepercayaan, norma, dan nilai kolektif, dan mendorong kita untuk menyesuaikan diri dengan klaim kolektif.
Representasi kolektif juga tidak bisa direduksi kepada individu-individu, karena ia muncul dari interaksi sosial, dan hanya bisa dipelajari secara langsung karena cenderung berhubungan dengan simbol material seperti isyarat, ikon, dan gambar atau berhubungan dengan praktik seperti ritual.

4. Arus Sosial
Menurut Durkheim, arus sosial merupakan fakta sosial yang tidak menghadirkan diri dalam bentuk yang jelas. Durkheim mencontohkan dengan “dengan luapan semangat, amarah, dan rasa kasihan” yang terbentuk dalam kumpulan publik.

5. Pikiran Kelompok
Durkheim menyatakan bahwa pikiran kolektif sebenarnya adalah kumpulan pikiran individu. Akan tetapi pikiran individual tidak secara mekanis saling bersinggungan dan tertutup satu sama lain. Pikiran-pikiran individual terus-menerus berinteraksi melalui pertukaran simbol: mereka megelompokkan diri berdasarkan hubungan alami mereka, mereka menyusun dan mengatur diri mereka sendiri. Dalam hal ini terbentuklah suatu hal baru yang murni bersifat psikologis, hal yang tak ada bandingannya di dunia biasa.
Fakta Sosial lawan Fakta Individu
Durkheim bertahan pada pendiriannya bahwa fakta sosial itu tidak dapat di reduksikan ke fakta individu, melainkan memiliki eksistensi yang independen pada tingkat sosial.Durkheim dalam melihat gejala sosial, baik dalam satu kelompok kecil atau dalam masyarakat keseluruhannya, akan mempertahankan bahwa keseluruhan lebih besar daripada jumlah bagian-bagiannya. Meskipun karakteristik kelompok mungkin lebih daripada jumlah individu yang meliputi kelompok tersebut, kelompok tidak dapat ad secara terpisah dari anggota-anggota individualnya.
c. Karakteristik Fakta Sosial
Durkheim mengemukakan dengan tegas tiga karakteristik yang berbeda, yaitu :


1. Gejala sosial bersifat eksternal terhadap individu.
Hampir setiap orang telah mengalami hidup dalam satu situasi sosial baru, mungkin sebagai anggota baru dari satu organisasi, dan merasakan dengan jelas bahwa ada kebiasaan-kebiasaan dan norma-norma yang sedan di amati yang tidak ditangkap atau dimengertinya secara penuh. Dalam situasi serupa itu, kebiasaan dan norma ini jelas dilihat sebagai sesuatu yang eksternal.
2. Fakta itu memaksa individu.
Jelas bagi Durkheim bahwa individu dipaksa, dibimbing, diyakinkan, didorong atau dengan cara tertentu dipengaruhi oleh berbagai ftipe fakta sosia dalam lingkungan sosialnya. Seperti yang ia katakana bahwa tipe-tipe perilaku atau berfikir ini mempunyai kekuatan memaksa yang karenanya mereka memaksa individu terlepas dari kemauannya sendiri.
3. Fakta itu bersifat umum.
            Fakta tersebar secara meluas dalam suatu masyarakat. Dengan kata lain fakta sosial itu merupakan milik bersama, bukan sifat individu perorangan. Fakta sosial ini benar-benar bersifat kolektif, dan pengaruhnya terhadap individu merupakan hasil dari sifat kolektifnya ini.

C. Strategi Untuk Menjelaskan Fakta Sosial
            Salah satu prinsip metodologi dasar yang ditekankan Durkhem adalah bahwa fakta sosial harus dijelaskan dalm hubungannya dengan fakta sosial lainnya.Kemungkinan lain yang paling besar untuk menelaskan fakta sosial adalah menghubungkannya dengan gejala individu seperti yang dikemukakan oleh ahli-ahli ekonomi klasik dan oleh Spencer. Prinsip dasar yang kedua adalah bahwa asal usul suatu gejala sosial dan fungsi-fungsinya merupakan dua masalah yang terpisah.
           


Sesudah menentukan bahwa penjelasan tentang fakta sosial itu harus dicari di dalam fakta sosial lainnya, Durkheim memberikan strategi tentang perbandingan terkendali sebagai metode yang paling cocok untuk mengembangkan penjelasan kausal dalam sosiologi.Metode perbandingan Durkhem lebih ketat dan terbatas.Pada intinya, metode perbandingan terkaendali itu meliputi klasifikasi silang dari fakta sosial tertentu untuk menentukan sejauh mana mereka berhubungan.Kalau korelasi antara dua himpunan fakta sosial dapat ditunjukkan sebagai valid dalam berbagai macam keadaan, hal ini member satu petunjuk penting bahwa dua tipe fakta itu mungkin berhubungan secara kausal.Artinya, variasi dalam nilai dari satu tipe variable mungkin merupakan sebab dari variasi dalam nilai variable kedua.

D. Fakta Sosial dan Implikasinya Terhadap Analisis Sosiologis
Fakta sosial bersifat eksternal, umum(general), dan memaksa (coercion).Fakta sosial mempengaruhi tindakan-tindakan manusia.Tindakan individu merupakan hasil proses pendefinisian realitas sosial, serta bagaimana orang mendefinisikan situasi. Asumsi yang mendasari adalah bahwa manusia adalah makhluk yang kreatif dalam membangun dunia sosialnya sendiri.Fakta sosial inilah yang menjadi pokok persoalan penyelidikan sosiologi.Fakta social dinyatakan oleh Emile Durkheim sebagai barang sesuatu (Thing) yang berbeda dengan ide.Barang sesuatu menjadi objek penyelidikan dari seluruh ilmu pengetahuan.Ia tidak dapat dipahami melalui kegiatan mental murni (spekulatif). Tetapi untuk memahaminya diperlukan penyusunan data riil diluar pemikiran manusia. Fakta sosial ini menurut Durkheim terdiri atas dua macam:
Ø  . Dalam bentuk material : yaitu barang sesuatu yang dapat disimak, ditangkap, dan diobservasi. Fakta sosial inilah yang merupakan bagian dari dunia nyata, contohnya arsitektur dan norma hukum.
Ø  . Dalam bentuk non-material : yaitu sesuatu yang ditangkap nyata (eksternal). Fakta ini bersifat inter subjective yang hanya muncul dari dalam kesadaran manusia, sebagai contoh egoisme, altruisme, dan opini.
Dalam melakukan pendekatan terhadap pengamatan fakta sosial ini dapat dilakukan dengan berbagai metode yang banyak untuk ditempuh, baik interview maupun kuisioner yang terbagi lagi menjadi berbagai cabang dan metode-metode yang semakin berkembang.Kedua metode itulah yang hingga kini masih tetap dipertahankan oleh penganut paradigma fakta sosial sekalipun masih adanya terdapat kelemahan didalam kedua metode tersebut.


















BAB 3
PENUTUP

Kesimpulan
a. Fakta sosial adalah seluruh cara bertindak, baku maupun tidak, yang dapat berlaku pada diri individu sebagai sebuah paksaan eksternal; atau bisa juga dikatakan bahwa fakta sosial adalah seluruh cara bertindak yang umum dipakai suatu masyarakat, dan pada saat yang sama keberadaannya terlepas dari manifestasi-manifestasi individual.
b. Fakta Sosial menurut Durkheim dapat dibedakan menadi dua tipe yaitu fakta sosial material dan non material.
c. Karakteristik fakta sosial yaitu :
1.  Gejala sosial bersifat eksternal terhadap individu.
2. Fakta itu memaksa individu.
3. Fakta itu bersifat umum.
d.Manusia adalah makhluk yang kreatif dalam membangun dunia sosialnya sendiri. Fakta sosial inilah yang menjadi pokok persoalan penyelidikan sosiologi.Fakta social dinyatakan oleh Emile Durkheim sebagai barang sesuatu (Thing) yang berbeda dengan ide.Barang sesuatu menjadi objek penyelidikan dari seluruh ilmu pengetahuan.Ia tidak dapat dipahami melalui kegiatan mental murni (spekulatif). Tetapi untuk memahaminya diperlukan penyusunan data riil diluar pemikiran manusia.





DAFTAR PUSTAKA

Doyle P Johnson.1988.Teori Sosiologi Klasik dan Modern.Jil 1. Jakarta: Gramedia
George Ritzer dan Douglas J.Goodman. 2011. Teori Sosiologi. Jil 6. Bantul: Kreasi Wacana
http://de-kill.blogspot.com/2009/05/sosiologi-perspektif-faktasosial.html,diakses tanggal:17/09/2011,pkl.11.25.